sol spatu....
Berkali-kali gw denger suara itu. Itulah enaknya punya kamar di deket jalan, walau terkadang suara-suar itu menambah bising kamar.
Kebetulan waktu itu gw butuh ngesol sepatu gw. Sepatu yang dibeliin mama tercinta waktu jaman ospek udah mulai usang. Jadilah gw panggil tukang sol itu.
Sebelum gw, ada mbak kos gw yang juga butuh ngesolin beberapa sandal dan sepatunya. Sebelum gw ngasih kerjaan ma si tukang sol itu, gw tanya "pak, ada benang item ga buat ngesol? Sepatuku item nih,"
"Iya mba, ada" kata si tukang sol itu dengan sopannya.
"Ngesol sepatu berapa, Pak?" tanya gw.
"Ya, tergantung tingkatkesulitannya mba," kata si bapak lagi masih dengan sopannya, seolah dia bicara dengan majikannya.
Setelah itu, jadilah gw ngesolin sepatu gw.
Lama. Ternyata ngesol sepatu itu lama. Emang pake ngantri beberapa sendal and sepatu mba kos sih, tapi yang ini beneran lama. dari jam 1 siang, sampe jam 4 sore belum selesai. Ada kira-kira 5 pasang sandal dan sepatu yang dia sol.
Karena bosen nungguin, gw iseng-iseng liat si bapak sol sepatu ngesol sepatu itu. Keliatannya susah and keras banget. Tibalah saat buat gw bayar sol sepatu itu. semuanya (plus punya mba kos gw) habis 33 ribu.murah banget kan?
Kasian gw liat dia. Mau ga mau otak gw yang kadang ga peduli ma orang lain ni ikut mikir juga.
"Tukang sol sepatu. Tiap hari lewat depan kos gw, mungkin puter-puter jogja seharian. Berangkat pagi, pulang sore atau bahkan malem. belum tentu dapet pelanggan banyak kek tadi. Orang ngesol sepatu ga tiap hari. Mereka kadang lebih milih buat bli sepatu baru ketimbang ngesol sepatunya..
Jadi bisa diitung pendapatan tiap harinya. Belum pengeluarannya ma keluarganya. Belum anak-anaknya sekolah...gw cuma bisa nunduk malu dan bilang dalam hati "hidup itu penuh perjuangan"
setelah usai ngesol sepatu and sendal kami, dia beranjak pergi mengayuh sepeda ontelnya dan kembali berteriak "sol spatu.........."


