Jumat, 02 November 2007

Hubungi aku Bulan

HUjan mengguyur kotaku dari sore, membuatnya lebih dingin dari hatiku.

Aku telah lama menunggu bulan, tapi malam itu mendung. Pastilah takkan ada bulan. Bintangku pun takkan muncul. Tapi aku tetap menunggu bulan walaupun tanpa bintang. Terus menunggu hingga aku jenuh.

"Aku tak mau menunggu lagi," pikirku.

Aku mencoba menghubunginya. Aku tahu dia takkan menjawabnya. Bahkan telah lama bulanku tak memakai nomor itu. Aku tak putus asa. Ku tulis pesan untuknya "aku ingin kamu membalasku secepatnya"

Aku tertidur dengan harapan yang tak tentu. Aku ingin dia juga merasakan yang sama denganku. Tapi mungkin itu hanya angan-anganku saja.

Esoknya aku menerima pesan balsan darinya. Astaga, di luar dugaanku nomornya kini dapat dihubungi kembali. Tuhan, inikah jawabanmu atas semua pertanyaanku. Gemetaran aku membuka pesannya.

Ini siapa ya?

Astaga, apakah dia sudah melupakanku? Tentu. Ada bintang lain di sampingnya kini. Aku bukan lagi bintangnya seperti masa kecilku dulu. Gugup, aku tak tau apa yang ku lakukan.

Aku meneleponnya.

"hallo"
 kataku.
"ya" katanya
"Yana..."
"Ini siapa? Maaf aku bukan Yana"


Hilang. Semuanya hilang sudah. Padahal pertama kali mendengar suaranya aku begitu yakin dia bulanku. Ternyata dia bukan Bulanku. Tuhan, dimana bulanku? Haruskah aku kembali kesana, menggambilny dan menyimpannya untukku?

Bulan, hubungi aku secepatnya. Sungguh, aku rindu.... Aku tak rela ada bintang lain di dekatmu.

Tidak ada komentar: